Penyebab Minimnya Perokok Di Korea | K-Netizens

0


          Jika kita membahas tentang rokok, pasti akan menyinggung beberapa orang yang menggunakan produk ini. Tapi walau bagaimanapun juga, hal ini memang harus dibicarakan. Dan semua ini demi kebaikan kita bersama. Di Indonesia, seseorang yang bergantung pada rokok sudah tidak bisa dihitung lagi jumlahnya, sangat banyak. Dan penggunanya bukan hanya orang dewasa, melainkan remaja dan anak kecil sekalipun. Kenapa hal ini bisa terjadi? Seolah generasi kita sangat terpuruk teracuni oleh benda yang jahat.
Kalau pendapat saya, jangan selalu menyalahkan pihak anak atau remajanya. Karena seumur mereka cenderung memiliki rasa ingin tahu yang luas. Dan dengan rasa coba-coba itulah, yang membuat mereka jadi pecandu rokok adiktif. Siapa yang harus disalahkan? Yang harus diberi peringatan adalah pihak orang tua, orang dewasa, dan toko yang menjual rokok tersebut. Loh, kok mereka yang kena salah? Kenapa? Mari kita lihat dari apa yang kita lihat sehari-hari.

  • Orang tua merokok seenaknya di depan anaknya, membagikan asap beracun yang berbahaya pada buah bibit mereka, sehingga membuat kesehatannya terganggu. Bukan hanya itu saja, anak itu akan berpikir untuk mencoba apa yang digunakan orang tuanya. Karena seorang remaja, memiliki rasa ingin tahu yang luas. Jika mereka terkena teguran, pasti akan membalikkan keadaan "Orang tua saya saja merokok, jadi bukan masalah dong?" Kalau sudah seperti ini, kita juga bingung mengambil tindakan lebih lanjutnya. Seharusnya pihak orang tua atau dewasa merokok pada tempat khusus dan tidak didepan seorang anak dibawah umur.
  • Kurangnya kerja sama antara penjual rokok. Kenapa saya bilang seperti ini? Jika di Korea Selatan sana, saat kalian ingin membeli rokok, maka kalian akan di mintai ID Card oleh sang penjual. Jika kalian berumur dibawah 18 tahun, maka kalian tidak akan diizinkan membeli rokok. Meskipun kalian sudah berumur 20 tahun tapi tidak membawa ID Card, dan kalian ngotot kalau kalian sudah berumur 20 tahun. Pihak penjual tidak akan memberikan rokoknya kepada anda. Kenapa bisa seperti ini? Karena sudah ada peraturannya tentang "Dilarang menjual rokok kepada anak dibawah umur" Jika mereka melakukannya, maka akan mendapatkan hukuman yang berat. Sistem hukuman di Korea itu bersifat nyata loh. Tidak seperti di Indonesia yang hanya tertulis, tapi tindakannya tidak ada.

          Di negara Ginseng sana, kalian tidak bisa merokok seenaknya di tempat umum. Jika kalian tetap nekat melakukannya, siap-siap saja akan terkena denda yang berat sebesar 8 Juta Won, atau jika dirupiahkan mencapai kurang lebih 40 juta rupiah. Dan hukuman ini sangat nyata loh. Bukan hanya sekedar ancaman semata. Tapi, bagaimana keadaan para perokok disana? 
Memutuskan untuk membuat keputusan larangan ini tentu pemerintah Korea juga memikirkan nasib para perokok. Disetiap tempat umum terdapat sebuah tempat khusus untuk merokok. Jadi semua perokok berkumpul disana dan merokok sepuasnya. Kalian bisa bayangkan, seberapa beracunnya tempat itu jika kalian masuk kedalamnya, semua asap rokok terkumpul dan mendiami satu tempat tanpa ventilasi udara. 

          Jika di Indonesia, meski ada larangan merokok di tempat umum, masih saja peraturan itu diabaikan. Masih banyak perokok bertebaran dimana-mana. Merokok seenak hatinya tanpa memikirkan orang lain yang merasa terganggu oleh perbuatannya. Sangat miris, ya.
Pribadi saya sendiri pernah mengalaminya. Ketika berada di angkutan umum, dan di pintu mobil itu tertera tanda dilarang merokok, masih saja ada yang merokok didalam mobil, dan yang lebih parahnya, supir mobil tersebut merokok juga. Jadi, apa artinya gambar dilarang merokok itu? Hanya sebuah pajangan atau hiasan mobil kah? Dan terkadang jika perokok itu ditegur, bukannya kita yang merasa terganggu yang marah, justru malah mereka yang jauh lebih marah dari kita. Miris sekali.

 
          Angka yang dicapai sangat tinggi. Program pemerintah untuk membasmi para perokok seolah bekerja dengan baik. Sekitar 70 persen warga Korea yang berhenti merokok memberikan alasannya, mereka berhenti karena kenaikan harga rokok yang melambung tinggi.
Harga rokok di Korea Selatan sejak awal 2015 mencapai 4.500 Won atau sekitar Rp53.000 per pak.
Dan hal ini membuat mereka para perokok, berpikir dua kali untuk membelinya. Lantas apa kebijakan ini berhasil? Tentu saja, kenaikan harga ini sangat memberikan respon positif bagi negara Korea. Ketika kalian berpergian di Korea, kalian akan jarang sekali menemukan perokok yang berkeliaran di jalanan. Bahkan dalam Subway pun tidak ada satupun yang merokok. Tapi jika di Indonesia, meski berada dalam ruangan ber AC pun, masih ada yang merokok. Entahlah, saya sendiri bingung, dimana sih otak mereka?

          Saya sendiri ikut senang dengan kebijakan pemerintah sekarang. Kini harga rokok menyamai seperti di Korea Selatan. Yaitu melambung naik hingga Rp50.000 per paknya. Saya bisa jamin, 2 sampai 3 tahun kedepan, kalian akan sulit menemukan perokok yang berkeliaran di jalanan. Karena mereka pasti akan berpikir dua kali, "Dari pada dibelikan rokok, mending untuk makan. 50 ribu bisa bikin perut kenyang 2 sampai 3 hari."

          Jika 70 persen warga Korea berhenti merokok karena melambungnya harga rokok, 43 persennya mengatakan berhenti karena pertimbangan kesehatan, dan 36 persen perokok mengatakan hanya perlu menahan keinginan untuk merokok. Kalau dipikir-pikir, yang terakhir ini terbilang sulit. Karena jika orang yang sudah kecanduan rokok, akan sulit untuk melupakannya. Rasanya lidah pahit jika tidak merokok satu hari saja.
Dan yang terakhir di urutan kedua, sekitar 42 persen mengatakan hanya perlu menggantinya dengan rokok Elektronik, lalu 28 persen wanita perokok mengatakan makan kudapan dan permen untuk mengganti merokok.

          Kebijakan ini sangat membawakan hasil yang sesuai keinginan bukan? Korea sudah membuktikannya, dan kini tinggal Indonesia melihat hasilnya. Jika memang dengan kenaikan harga rokok tidak memberikan perubahan drastis pada para perokok, terpaksa harus bekerja sama dengan para pedagang seperti di Korea. Bagi yang berumur dibawah 18 tahun dilarang membeli rokok. Suka atau tidak, mereka harus mematuhinya. Jika tidak, maka hukuman sudah menanti mereka.

          Jangan lupa untuk melakukan Bookmark pada K-Netizens di browser kesayangan anda agar lebih mudah untuk mengakses K-Netizens. Be smart, be a good K-readers.

Post a Comment Blogger

 
Top