Korea Tak Seindah Seperti Dramanya | K-Netizens

6



          Seoul merupakan sebuah kota khusus di Korea Selatan yang telah berusia lebih dari 600 tahun. Di masa lalu, Kota Seoul menjadi ibukota dari seluruh Korea, hingga pada tahun 1948, kota ini resmi menjadi ibukota Korea Selatan atau yang disebut pula Republik Korea.
Dulunya, Kota Seoul dikenal dengan berbagai nama, diantaranya Wirye-seong (위례성; 慰禮城) di era Baekje, Hanju (한주; 漢州) di era Silla, Namgyeong (남경; 南京) pada masa Goryeo, Hanseong (한성; 漢城) pada era Baekje dan Joseon, Hanyang (한양; 漢陽) di era Dinasti Joseon, hingga Gyeongseong (경성; 京城) pada masa pendudukan kolonial.

          Kota Seoul berdiri di wilayah seluas 605.21 km² dengan sebuah sungai bernama Sungai Han membagi wilayahnya menjadi dua bagian. Seoul terletak di barat laut Korea Selatan, di bagian selatan DMZ Korea. Kota ini berperan sebagai pusat politik, budaya, sosial dan ekonomi di Korea Selatan serta Asia Timur. Aktifitas bisnis, keuangan, perusahaan multinasional, dan organisasi global juga tak bisa dilepaskan dari Seoul. Hingga kini, Seoul masih dianggap sebagai sinar perekonomi Asia Timur, simbol keajaiban ekonomi Korea.
Ada sekitar 10 jiwa penduduk Korea Selatan yang mendiami kota ini. Mobilitas kota pun sangatlah padat, membuat kota ini terkadang masih bergelut dengan kemacetan. Beruntungnya, pemerintah Kota Seoul sangat memperhatikan perihal peranan transportasi umum terintegrasi untuk mengurai kemacetan, semisal dengan dihadirkannya bus, kereta, subway, taksi, dan pelebaran jalanan di ibukota.

          Secara administratif, Kota Seoul dibagi menjadi 25 distrik atau disebut gu (구). Ke dua puluh lima gu ini dibagi lagi menjadi 522 dong, dan dibagi lagi menjadi 13.787 tong, hingga menjadi 102.796 ban. Berikut daftar 25 distrik atau gu (구) di Korea Selatan,
  1. Dobong-gu (도봉구; 道峰區)
  2. Dongdaemun-gu (동대문구; 東大門區)
  3. Dongjak-gu (동작구; 銅雀區)
  4. Eunpyeong-gu (은평구; 恩平區)
  5. Gangbuk-gu (강북구; 江北區)
  6. Gangdong-gu (강동구; 江東區)
  7. Gangnam-gu (강남구; 江南區)
  8. Gangseo-gu (강서구; 江西區)
  9. Geumcheon-gu (금천구; 衿川區)
  10. Guro-gu (구로구; 九老區)
  11. Gwanak-gu (관악구; 冠岳區)
  12. Gwangjin-gu (광진구; 廣津區)
  13. Jongno-gu (종로구; 鍾路區)
  14. Jung-gu (중구; 中區)
  15. Jungnang-gu (중랑구; 中浪區)
  16. Mapo-gu (마포구; 麻浦區)
  17. Nowon-gu (노원구; 蘆原區)
  18. Seocho-gu (서초구; 瑞草區)
  19. Seodaemun-gu (서대문구; 西大門區)
  20. Seongbuk-gu (성북구; 城北區)
  21. Seongdong-gu (성동구; 城東區)
  22. Songpa-gu (송파구; 松坡區)
  23. Yangcheon-gu (양천구; 陽川區)
  24. Yeongdeungpo-gu (영등포구; 永登浦區)
  25. Yongsan-gu (용산구; 龍山區)
          Sebagai pusat ekonomi bisnis dan politik, kota ini diramaikan oleh berbagai perusahaan multi nasional yang hadir di dalamnya, seperti Samsung, LG, Hyundai dan Kia. Di bidang pendidikan, Seoul turut andil memegang peran melalui Seoul National University “서울대학교”, universitas terbaik di Korea sekaligus 5 besar dalam peringkat universitas terbaik dunia.

          Kota Seoul juga unggul dalam segi pariwisata. Ada banyak tempat menarik yang banyak diserbu oleh para wisatawan mancanegara namsan tower atau seoul tower, lotte world, wisata air sungai han, museum, pusat perbelanjaan, istana kerajaan korea selatan, serta kawasan muslim di itaewon.


          Sebuah pertanyaan seringkali didengungkan oleh kalangan ekspatriat Korea Selatan. “Anda ingin tinggal di surga yang membosankan atau pergi ke neraka yang lebih menarik?” Pertanyaan ini muncul dari benak mayoritas warga Korea yang bimbang hendak bertahan untuk tetap tinggal di negaranya, atau mengambil kesempatan untuk pergi meninggalkan Korea dan menengok kehidupan di luar sana. Alasannya, jumlah penduduk di Korea Selatan sudah sangat padat sehingga membawa masyarakat pada akibat-akibat yang tak terhindarkan.

          Sebagai contoh, Orang-orang di Korea Selatan tinggal di sebuah apartemen kecil dengan harga yang selangit. Untuk menyewa satu unit kamar saja, dibutuhkan uang muka (biasa disebut ‘uang kunci’) sebesar puluhan ribu USD. Untuk apartemen, lebih mahal lagi, uang muka sewanya bisa mencapai ratusan ribu dolar.

          Tak mengherankan jika kemudian muncul istilah ‘Officetel’. Anda yang belum pernah ke Korea pasti asing dengan istilah ini. Officetel adalah semacam gabungan Office (kantor) dan Hotel yang memungkinkan pemiliknya memasukkan ruang kerja di dalam area tempat tinggalnya yang sempit. Di Indonesia kita menyebutnya dengan Ruko (Rumah Toko).



          Kenyataan ini menunjukkan betapa kecilnya kesempatan untuk mendapat akses ruang pribadi di Korea Selatan. Tak berbeda Jauh dengan di Indonesia, orang-orang di Korea Selatan hidup serumah dengan orangtua mereka hingga tiba saatnya mereka menikah dan mampu menyewa apartemen sendiri. Untuk mendapatkan Private spot, kaum muda Korea Selatan harus rela mengeluarkan budget tambahan untuk menyewa DVD Room atau Love Motel jika ingin menyendiri bersama pasangan.

          Berpikir untuk mengasingkan diri ke Pantai? Taman Bermain? atau ke Gunung? Sebaiknya urungkan saja. Kebosanan yang melanda sebagian warga Korea membuat mereka memutuskan mencari hiburan di tempat-tempat rekreasi. Hasilnya, hanya terlihat lautan manusia yang tumpah di pusat rekreasi tersebut.

          Kebosanan ini belum lagi ditambah dengan jam kerja yang sangat panjang. Berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Korea Selatan menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan jam kerja terpanjang di dunia setelah Meksiko dan Kosta Rika. Dalam setahun, rata-rata warga Korea Selatan menghabiskan 2.193 jam untuk bekerja. Hal ini karena mereka sering dijuluki sebagai "Gila kerja", rasanya berdosa jika satu hari saja tidak bekerja.



          Lalu, bagaimana cara mereka melepaskan diri dari semua ketegangan hidup? Mereka minum minuman keras hingga mabuk. Melihat orang-orang tertidur dengan pakaian kerja di emperan toko pada pagi hari tentu bukan pemandangan baru di Korea Selatan.




          Masyarakat Korea Selatan juga sangat akrab dengan prostitusi, yang juga masih dipandang ilegal di negara ginseng tersebut. Sanksi hukum dan tindakan tegas kepolisian jelas mengintai. Namun, menurut The Korea Women’s Development Institute, perdagangan seks di Korea mencapai 1,6% dari PDB Nasional, yang diperkirakan berjumlah sekitar 14 triliun won atau sekitar Rp 159 triliun. Laki-laki dewasa dengan rentang usia 20-64 tahun rata-rata menghabiskan 693.000 won per bulan untuk urusan yang satu ini. Uniknya lagi, hasil studi yang dilakukan oleh Medical college of Korea University menyatakan bahwa 23,1% laki-laki dan 2,6% perempuan di Korea Selatan memiliki pengalaman seksual pertama mereka dengan PSK.

          Korea Selatan memang menawan bagi generasi muda dengan ritme hidup yang serba cepat. Namun, sekalinya menua, apakah Anda mau tetap hidup berdempetan dengan sistem dan norma yang menekan kehidupan Anda?


          Apabila kita memakai atribut gama, maka kamu akan dipandang dengan tatapan aneh.
Memakai jilbab di Indonesia adalah suatu hal yang biasa, akan tetapi memakai jilbab di Korea adalah suatu hal yang tidak biasa. Hampir 50% warga Korea tidak memeluk agama apapun, sehingga sebagian besar dari mereka tidak memahami apa itu agama beserta atributnya. Terlebih lagi, populasi umat muslim di Korea yang amat sedikit membuat orang Korea seringkali mengernyitkan dahi pada saat melihat umat muslim yang mengenakan jilbab.

          Jadi jangan kaget saat kamu melakukan kegiatan dan menggunakan atribut keagamaan kamu akan sedikit mendapat pandangan aneh. Tidak ada larangan, hanya saja kamu tak perlu merasa tersinggung dengan sikap mereka yang merasa aneh dengan atribut keagamaanmu.


          Kamu harus ekstra teliti membaca kandungan makanan di setiap kemasan.
Harga makanan biasa yang cukup tinggi saja sudah cukup membuat pusing tujuh keliling, ditambah lagi dengan sulitnya mencari makanan halal di negara non-muslim seperti Korea. Sebagian besar makanan di Korea mengandung daging atau minyak babi, karena itulah bagi para umat muslim mencari makanan harus sangat selektif.

          Setiap kali hendak membeli makanan, harus mau dan jangan malas untuk membaca dengan detail setiap kemasan bahan makanan yang ada. Walaupun sekarang ada Korean Halal Industry Association, makanan halal tetaplah makanan yang mahal di Korea karena jumlahnya yang sangat jarang.

 
Hal ini karena ada banyak persyaratan yang harus kamu penuhi terlebih dulu.
Dengan estimasi biaya hidup sekitar 900.000 won (sekitar 10.800.000 rupiah) untuk standar hidup di Seoul, maka kamu harus bekerja sambilan untuk bisa menghidupi diri kamu apabila kamu tidak mendapatkan beasiswa untuk biaya hidup kamu di Korea. Namun kamu juga nggak bisa sembarang asal bekerja, lho. Ada beberapa ketentuan yang harus kamu patuhi supaa kamu bisa mengantungi izin bekerja sambilan di Korea.

          Ketentuan bekerja sambilan dari pihak imigrasi Korea adalah kamu harus sudah tinggal di Korea selama minimal 6 bulan, memegang visa D-2 atau D-4, dan memiliki izin untuk bekerja sambilan dari universitas kamu. Sebagai mahasiswa, kamu bisa bekerja maksimal 20 jam seminggu dengan honor 5.000-6.000 won per jam.

          Pekerjaan sambilan yang bisa kamu ambil bervariasi, mulai dari SPG di toko kosmetik, penerjemah, dan sebagainya. Tentu saja, biasanya perusahaan-perusahaan tersebut mensyaratkan kamu bisa berbahasa Korea untuk bekerja.


          Bagi kalian yang berwawasan awam tentang korea pasti bersikeras berkeinginan untuk bisa kuliah di negara ini. Baik secara beasiswa maupun dengan uang sendiri. Tapi yang menjadi pertanyaannya, siapkah anda untuk menjalaninya? Kenapa saya mengatakan ini, karena yang akan kalian temui nanti tidak seperti kuliah di negeri sendiri. Jika di negara kita, Indonesia kalian bosan mendengar celotehan dosen yang tiada hentinya. Disini justru lebih buruk dari itu.

          Dosen dikorea sama halnya seperti di Indonesia, dia terus berbicara tentang materi pelajarannya dengan Bahasa Korea, kalian juga harus membaca buku-buku pelajaran yang menggunakan bahasa korea, teman-teman sekelas kalian kebanyakan orang korea dan berbicara bahasa resmi mereka. Membuat skripsi, dan tugas-tugas pun harus dengan bahasa korea. Jika kalian tidak bisa berbahasa korea, sekali lagi saya tanya, mau jadi apa kalian nanti disana? Maaf sebelumnya, karena bahasa sangat menjadi penentu suksesnya kalian disana. Sebab untuk mengerti apa yang diterangkan dosen, kalian harus bisa bahasa korea. Jika tidak, setiap hari kalian berangkat kuliah, tidak menghasilkan apapun. Sebab kalian tidak tahu apa yang masuk ke otak kalian selama ini.
          Jadi, anda tetap berkeinginan untuk menetap tinggal disana, atau hanya sekedar menjadi turis dan berwisata ke negara yang indah ini? Sebaiknya kalian harus memikirkannya dalam-dalam. Karena apa yang kalian hadapi akan menjadi penentu masa depanmu.

          Jangan lupa untuk melakukan Bookmark pada K-Netizens di browser kesayangan anda agar lebih mudah untuk mengakses K-Netizens. Be smart, be a good K-readers.


Post a Comment Blogger

 
Top